fbpx

Upacara Adat Seba Baduy

Upacara Adat Seba Baduy Gubernur

Seba berasal dari bahasa sunda, saba, yang berarti berkunjung atau mengunjungi. Ada pun upacara Seba itu sendiri adalah sebuah tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat suku Baduy, -sebuah suku pedalaman yang terletak di Desa Kanekes, Kecamata Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten- secara turun-temurun dengan mengunjungi kepala pemerintahan dimana suku Baduy berada. Dalam hal ini yaitu Bupati Kabupaten Lebak dan Gubernur Provinsi Banten. Upacara ini adalah salah satu upacara adat di Banten, yang merupakan kekayaan adat dan budaya Provinsi Banten bersama dengan Seren Taun dari Kasepuhan Cisungsang di Lebak Selatan.

Pelaksanaan Upacara Seba

Upacara Seba dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Biasanya dilakukan pada minggu pertama, sebelum tanggal 10, bulan keempat penanggalan suku Baduy, yaitu bulan Sapar. Biasanya penanggalan tersebut bersamaan dengan bulan April atau Mei dalam penanggalan Masehi. Saat tulisan ini dibuat, upacara Seba jatuh pada hari Jum’at dan Sabtu, tanggal 27 dan 28 April 2012. Biasanya, pelaksanaan upacara berlangsung selama dua hari di Pendopo Kabupaten Lebak dan Pendopo Gubernur Banten, dimana Bapa Gede dan Ibu Gede berada.

Upacara Adat Seba Baduy
Masyarakat suku Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan bersama menuju Pendopo Gubernur Banten ketika Upacara Adat Seba

Kegiatan Pembuka Upacara di Kampung Baduy

Sebelumnya suku Baduy melaksanakan berbagai tradisi pada bulan kawalu di kampung mereka masing-masing di desa Kanekes. Setelah itu, mereka kemudian ‘turun gunung’, melakukan perjalanan secara berombongan menuju ibukota Kabupaten Lebak, Rangkasbitung untuk bertemu dengan Bupati. Kemudian meneruskan perjalanan tersebut menuju Ibukota Provinsi Banten yang tak lain kota Serang, untuk bertemu dengan Gubernur. Rombongan upacara Seba hanya terdiri dari kaum laki-laki, baik dewasa maupun anak-anak. Perempuan tidak diperkenankan mengikuti kegiatan upacara adat ini. Jumlahnya terdiri dari 1388 orang dari Baduy luar dan 51 dari Baduy Dalam.

Suku Baduy ‘Turun Gunung’ untuk melaksanakan ritual adat Seba Baduy

Upacara Seba dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen mereka yang telah dipanen pada bulan kawalu. Untuk itu, pada Upacara Seba ini, rombongan suku Baduy membawa beberapa hasil pertanian mereka. Antara lain padi, pisang, gula, talas, beras yang ditumbuk yang disebut laksa dan aneka sayuran. Hasil bumi ini diserahkan secara simbolis oleh perwakilan dari suku Baduy kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten pada saat upacara Seba.

Seba Baduy diterima Bupati Lebak

Setiap tahunnya, masyarakat suku Baduy diterima langsung oleh Bupati Lebak di Pendopo Kabupaten Lebak. Yang kemudian dilanjutkan dengan harapan dan pesan suku Baduy yang diwakili oleh Jaro atau Kepala Desa Kanekes dan Jaro Dua Belas Saidi Putra.

Acara dialog antara pemerintah Kabupaten Lebak dan Suku Baduy menjadi acara penutup upacara Seba ini. Sebelumnya didahului penyerahan Laksa secara simbolis dari Suku Baduy kepada Pemerintah Lebak.

Setelah rangkaian acara dilakukan, suku Baduy menonton pertunjukan layar tancap. Kegiatan ini sengaja dilaksanakan untuk penyambutan rombongan suku Baduy ini. Selanjutnya, esok harinya rombongan masyarakat suku Baduy akan melanjutkan perjalanan dari kota Rangkasbitung menuju Serang.

Jalan Kaki Menempuh Puluhan Kilometer Tanpa Alas Kaki Bagian Dari Tradisi Adat

Masyarakat suku Baduy terutama Baduy Dalam berjalan kaki bersama tanpa alas kaki untuk melaksanakan upacara adat ini. Mereka berjalan kaki dari kampung Cibeo di Baduy Dalam menuju pendopo Bupati Lebak, lalu menuju Pendopo Gubernur Banten. Setelah rangkaian upacara selesai akan kembali lagi dengan berjalan kaki juga.

Berjalan Upacara Adat Seba Baduy
Suku Baduy Dalam berjalan kaki puluhan kilometer ke Ibukota Banten saat Upacara Seba

Setelah berjalan kaki dari Rangkasbitung menuju Kota Serang, akhirnya rombongan suku Baduy Dalam tiba di Pendopo Gubernur Banten sore hari ini. Dan diterima langsung oleh Gubernur Banten malam harinya.

Memegang Teguh Adat dan Tradisi

Seperti yang kita ketahui, suku Baduy terdiri dari Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Dalam tidak menerima segala bentuk modernisasi, sedangkan Baduy luar lebih terbuka dalam menerima bentuk-bentuk modernisasi. Maka dalam upacara Seba ini pun, sesungguhnya hanya masyarakat Baduy Dalam sajalah yang berjalan kaki dari tempat tinggal mereka di Kampung Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik, di Desa Kanekes menuju Pendopo Bupati Lebak sejauh kurang lebih 52 km. Lalu kemudian dilanjutkan menuju Pendopo Gubernur Banten di Kota Serang sejauh 40 km, tanpa alas kaki tentunya. Karena menurut mereka, kendaraan dan sendal adalah bentuk modernisasi yang tidak mereka terima. Sedangkan masyarakat Baduy luar naik kendaraan secara rombongan.

Anak Kecil pun ikut tradisi adat upacara Seba Baduy dengan berjalan kaki tanpa alas kaki.

Bagi Penulis, dan mungkin kebanyakan orang, ini adalah sesuatu yang amat unik. Berjalan kaki sejauh sekitar 92 km, tanpa alas kaki, secara berkelompok, dan dilakukan secara rutin setiap tahun dengan membawa barang bawaan yang tak sedikit adalah perkara yang tak biasa.

Masih tersimpan dalam ingatan Penulis kecil, pengalaman menyaksikan rombongan suku Baduy berarak-arakan sambil menyanyikan lagu-lagu yag diiringi alunan musik adalah hal yang sangat berkesan hingga kini. Menyaksikan mereka beramai-ramai menuju Rangkasbitung dan kemudian melanjutkan perjalan ke Bandung (saat itu Banten belum memisahkan diri dari Jawa Barat) adalah sebuah momen masa kecil yang tak terlupakan. Walau saat itu penulis belum tahu sejauh apa Rangkasbitung dan Bandung itu. Ditambah lagi jika diukur dengan berjalan kaki!

Semua mereka lakukan hanya untuk meneruskan sebuah tradisi yang turun temurun sudah dilakukan dan merupakan warisan leluhur mereka.

Pujian Gubernur pada Seba Baduy

Sebuah pengorbanan yang menurut hemat Penulis harus diapresiasi oleh pemerintah, baik pemerintah Kabupaten Lebak, dan juga pemerintah Provinsi Banten. Maka adalah wajar jika malam hari, pada sesi dialog, Gubernur banyak memuji dan berterimaksih atas kedatangan masyarakat Baduy ke Pemerintah Banten, dengan susah payah dan dengan serta membawa ‘oleh-oleh’. Walau pujian dan terimakasih secara lisan saja tidak cukup.

Upacara Adat Seba Baduy Gubernur
Seba Baduy bersama Gubernur Provinsi Banten di Pendopo Gubernur

Setalah rangkaian acara upacara Seba, malam ini suku Baduy disajikan wayang golek oleh Ibu Gede. Dan esok pagi, rombongan suku Baduy akan kembali menuju Desa Kanekes di pedalaman Kabupaten Lebak. Tentunya untuk Baduy dalam akan menempuhnya dengan berjalan tanpa alas kaki sejauh kurang lebih 92 km.

Ini adalah tulisan kedua Achmad Anwar Sanusi mengenai Upacara Seba, yang kebetulan hampir setiap tahun berkesempatan langsung mengikutinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *