fbpx

Badui atau Baduy: Sejarah Suku Baduy

Badui di Jazirah Arab menjadi inspirasi penamaan masyarakat adat sunda Baduy. Atau lebih dikenal dengan sebutan suku Baduy, urang Kanekes, atau urang Rawayan (nama lain dari suku Baduy atau Badui). Mereka tinggal adan menetap di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Asal-usul Kata Badui

Dalam bahasa Arab terdapat kata Badui yang merujuk pada nama sebuah suku di gurun pasir. Kata Badui ini berasal dari kata badiyah yang artinya gurun (desert). Orang yang mendiami gurun (desert dweller) disebut badw (banyakdan badawi (tunggal). Dari sinilah (suku Badui Arab) diperkirakan penamaan suku Baduy bermula. Sementara gaya hidup yang dijalani suku Badui Arab disebut badawah (nomad), artinya berpindah-pindah. Berbeda dengan gaya hidup badawah, hadharah artinya menjalani gaya hidup yang menetap (settled). Jika badawi adalah orang gurun, maka hadhari adalah orang yang telah bermukim secara tetap (town dweller). Selain itu, terdapat kata yang seakar, yakni bidayah yang berarti permualan, asli, atau sejati.

Seorang Ilmuan Muslim pada Abad ke-14/15 M Ibnu Khaldun memiliki pandangan bahwa: “Badawi adalah permulaan dari hadhari dan sebaliknya, hadhari merupakan pencapaian akhir dari badawi” (Mukadimah). Sementara jauh sebelum itu, Sahabat Nabi Muhammad SAW dan Khalifah Umat Islam ke-2 pada Abad ke-7 M Umar Ibn Al-Khatab memberikan pernyataan perihal badawi ini. Yaitu bahwa: “Mereka adalah permulaan bangsa Arab dan hakikat dari Islam” (Shahih Bukhari). Untuk memahami pandangan Ibnu Khaldun dan mendalami pernyataan Umar Ibnu Khatab perlu dipaparkan selintas pandangan ilmiah mengenai latar belakang dan tahapan dalam pembentukan suatu tatanan masyarakat manusia berkembang, termasuk masyarakat Baduy di dalamnya.

Suku Badui dalam Sejarah

Dalam sudut pandang Sejarah, waktu dibagi kedalam dua tahap. Yakni Masa Prasejarah (prehistory) dan Masa Sejarah (history). Masa Prasejarah ditandai dengan benda-benda peninggalan dari bahan dasar batu (stone tools), sementara Masa Sejarah ditandai dengan ditemukannya tulisan (writing system). Dengan ditemukannya tulisan maka gagasan mengenai waktu yang dipahami sebagaimana sudut pandang modern ini dapat dimulai (masa lalu, masa kini, masa depan). Tidak sebagaimana terjadi pada masyarakat dimana sistem penulisan belum dimulai maka gagasan mengenai waktu dan Sejarah biasanya relatif bias (mistis) dan tanpa batas (tidak definitif). Melalui penciri tulisan, dapat dikatakan bahwa nama lain untuk Masa Prasejarah adalah Masa Praaksara, sementara Masa Sejarah juga dapat dikatakan sebagai Masa Aksara. 

Masa Prasejarah

Adapun Masa Prasejarah dibagi ke dalam tiga tahap. Yakni Zaman Batu (stone age), Zaman Perunggu (bronze age), dan Zaman Besi (iron age). Ketiga tahap pembagian waktu tersebut didasarkan oleh temuan benda-benda yang menjadi pencirinya yang dominan. Zaman Batu adalah zaman dimana batu menjadi ciri khas prodak benda-benda yang dihasilkan oleh manusia penyokongnya. Sementara Zaman Perunggu adalah zaman dimana manusia telah memasuki masa pembuatan benda-benda dari bahan dasar perunggu. Sedangkan Zaman Besi adalah zaman dimana manusia telah mampu menghasilkan benda-benda dari bahan dasar besi. Benda-benda dari bahan dasar perunggu dan besi dapat dihasilkan dikarenakan tingkat kemajuan manusia yang pada tahap ini telah mampu melakukan pengolahan terhadap logam (metalurgy). Masa penggunaan logam ini biasa juga disebut dengan Zaman Perundagian. Hal ini dengan ditemukannya logam tidak berarti bahwa tradisi pembuatan pekakas dari bahan dasar batu berakhir.

Zaman Batu Tua

Sementara itu, Zaman Batu (stone age) sendiri dapat dibagi kedalam tiga tahap. Yakni Babak Batu Tua (paleolithic period), Zaman Batu Tengah (mesolithic periode), dan Babak Batu Baru (neolithic periode). Pencapaian pada Babak Batu Tua antara lain penemuan batu sebagai bahan dakar pekakas. Juga penggunaan api sebagai media memasak makanan dan membuat penerangan di malam hari, adat penguburan, peletakkan dasar-dasar seni dan musik. Pada babak ini mata pencaharian dilakukan dengan cara mengumpulkan makanan (food gathering). Dikarenakan lingkungan alamiah memiliki keterbatasan maka manusia tidak menetap di suatu tempat dalam jangka waktu yang panjang (sedentary people). Melainkan melakukan pergerakan secara dinamis dalam upaya memenuhi ketersediaan sumberdaya makanan berupa hewan dan tumbuhan (nomad hunter-gather).

Pada tahap ini, manusia mengalami penyebaran melintasi seluruh wilayah di permukaan bumi (outbound). Melalui pola dasar matapencaharian demikian, struktur sosial masyarakat pemburu dan peramu (hunter-gather societies) cenderung berada dalam kelompok-kelompok kecil dengan statifikasi sosial yang cenderung bersifat sederhana dan egaliter. Menurut Karl Marx dan Friedrich Engels struktur sosial pada masarakat pemburu dan peramu demikian dianggap sebagai struktur masyarakat Komunis Primitif (primitive communism).

Zaman Batu Tengah

Pada Babak Batu Tengah selain menggunakan pekakas dari bahan dasar batuan beku dari bahan dasar magma gunungapi (andesit), digunakan juga batuan dengan kandungan sedimentasi kristal dan mineral (flint tools) dalam pembuatan aneka pekakas tajam dan perhiasan (microliths/microburins). Pekakas besar berupa kapak batu (stone adzes) telah mengalami modifikasi dengan tangkai kayu yang dapat digunakan untuk memotong pepohonan. Demikian juga dengan peralatan memancing (fishing tackle) telah mengalami perkembangan pesat. Selain itu telah berkembang juga perlengkapan dari bahan dasar kayu seperti perahu (canoes) dan busur-panah (bows) untuk melakukan perburuan hewan. Pada Zaman Batu Tengah manusia telah cenderung menetap dalam pergerakannya di sekitar sumber air dan gua-gua batu.  

Zaman Batu Baru

Sementara Zaman Batu Baru merupakan pencapaian yang menumental dan titik balik yang menentukan bagi masa depan manusia. Di Asia Barat Daya, Zaman Batu Baru berlangsung mendahului semua wilayah di dunia, yakni pada sekitar 10.000 SM. Pencapaian monumental pada masa ini terkait dengan kemampuan untuk melakukan proses budidaya terhadap hewan dan tumbuhan (domestication of plants and animals). Adapun hewan yang mampu ditundukkan dan menjadi peliharaan adalah kambing, domba, sapi, babi, dan anjing. Sementara tumbuhan yang terpenting yang berhasil dibudidaya adalah aneka jenis tumbuhan bebijian dan gandum (cereal grasses), dan tin. Dengan adanya makanan yang mulai berkecukupan, maka penjelajahan menjadi berkurang. Waktu luang menjadi ada dan berbagai kreasi peralatan dan benda-benda lainnya semakin banyak dan bervariasi.

Pemukiman terbentuk dan secara bertahap dan semakin permanen (sedentary life). Karya terbesar pada pola kebudayaan ini adalah tinggalan-tinggalan berupa bangunan Batu Besar (Megalithic) yang megah, seperti menhir, dolmen, peti kubur batu, punden berundak, arca dan seterusnya. Sistem keyakinan yang bebasis pada kekuatan alam (dynamism) dan roh leluhur (animism) terbentuk. Sistem sosial dan stratifikasi masyarakat berkembang menjadi semakin kompleks dengan terjadinya pembagian-pembagian profesi. Sementara pendorong utama prestasi zaman ini berkat ditemukannya cara budidaya, dimana capaian pada tahap akhi Zaman Batu Baru ini seringkali disebut dengan Revolusi Zaman Batu Baru (Neolithic Revolution) ataupun Revolusi Pertanian (Agricultural Revolution).

Puncak Zaman Batu Baru kemudian dilanjutkan dengan pencapaian-pencapaian pada Zaman Perunggu dan Zaman Besi. Kedua zaman ini seringkali disebut dengan Zaman Perundagian. Undagi (Sunda, panday) adalah ahli dalam kegiatan peleburan logam (metalurgy) dan pembuatan benda-benda dari bahan dasar logam, yakni perunggu (bronze) dan besi (iron). Cetakan dibuat dengan tanah liat maupun lilin.

Zaman Perunggu dan Zaman Besi

Perunggu adalah campuran tembaga dan timah dalam komposisi 3/10 (dengan demikian berkembang juga sekaligus peleburan tembaga dan timah). Sementara peleburan biji besi membutuhkan teknik lebih dikarenakan tingkat suhu yang dibutuhkan lebih tinggi. Perlengkapan pada masa ini adalah pekakas logam seperti kapak, mata tombak, periuk, nekara, patung, dan seterunya. Pada Zaman Besi ini di Asia Barat Daya penemuan tulisan (writing system) terjadi antara 3400 dan 3300 SM sehingga dengan demikian Masa Sejarah telah dimulai secara bertahap sejak Zaman Besi. Meskipun perintisan tulisan dalam bentuknya simbol-simbol paling tua (proto-writing) sebenarnya telah dimulai sejak Zaman Batu Baru dengan terobosan Revolusi Zaman Batu Baru atau Revolusi Pertaniannya.

Penghunian wilayah Nusantara dan Pasifik secara umum terjadi sekitar 60.000 sampai 70.000 SM dengan masuknya rumpun Austro-Melanesia (Vedoid/Negrito) yang berfenotip kulit coklat gelap dan berambut ikal dengan mata terbuka. Penciri artefak budayanya adalah kapak batu lonjong dari pencapaian Zaman Batu Tua (paleolithic period). Sementara itu, gelombang baru dimulai sekitar 3000 SM dengan masuknya rumpun Austronesia (Proto-Melayu) dari kawasan China Selatan (Yunan) melalui Taiwan (Formosa) dan Filipina (pendapat lain melalui Kepulauan Ryku Jepang) yang memiliki fenotip kulit kuning langsat dengan rambut lurus dan mata sipit. Penciri artefak budayanya adalah kapak batu persegi (beliung persegi) dari pencapaian Zaman Batu Batu (neolithic period). Selain itu masuk juga rumpun Austronesia (Deutro-Melayu) yang masih merupakan rumpun yang sama dengan masa sebelumnya hanya saja datang pada gelombang yang kedua.

Jika Melayu muda datang pada gelombang yang pertama, maka Melayu Muda datang pada gelombang yang kedua sekitar 500 SM. Pada masa Melayu Muda mereka meng-update perkembangan baru dari pencapaian Zaman Perunggu dengan pencapaian kebudayaan Dongson dari Vietnam. Pada saat ini mereka telah membawa genderang (nekara), kapak corong (kapak sepatu), bejana, dan perlengkapan lain yang telah berbahan dasar logam. Selain pengembang kebudayaan logam mereka juga pengembang kebudayaan dari puncak pencapaian Revolusi Zaman Batu Baru (neolithic revolution), yakni kebudayaan Batu Besar (megalithic) berupa monumen-monumen bangunan besar dari batu seperti menhir (tiang), dolmen (meja), sarkofagus (kubur), dan punden berundak.

Sebagian masyarakat Austro-Melanesoid yang tidak menghendaki pembauran karena posisinya tergeser bangsa Austronesia-Proto Melayu (Melayu Tua) mereka bergeser ke arah Timur dan menempati wilayah yang kini menjadi Pulau Papua dan Australia. Sementara yang mengalami pembauran antara Austro-Melanesoid dengan Austronesia-Proto Melayu mereka menghasilkan kebudayaan mestiso yang kini menempati wilayah Kepulauan Maluku dan Kepulauan Nusa Tenggara (bagian Timur).

Sementara itu, Austronesia-Deutro Melayu (Melayu Muda) yang pada hakikatnya serumpun dengan Austronesia-Melayu Tua tidak memiliki persoalan besar dalam proses pembaurannya. Rumpun Austronesia-Melayu Muda yang telah membawa dasar-dasar kebudayaan maju telah mampu menjalankan perannya sebagai perekat bagi pembangunan kohesifitas masyarakat Nusantara. Mereka mampu menyerap, beradaptasi, dan berasimilasi dengan lapisan dasar masyarakat dan kebudayaan sebelumnya (Melanesoid dan Melayu Tua). Demikian juga dengan lapisan masyarakat dan kebudayaan yang datang lebih baru lagi (Indo-Iranian, Arab, Asia Timur, dan Eropa). Sementara masyarakat Melayu Tua yang tidak menghendaki pembauran masih tersisa menjadi suku-suku yang relatif terasing di Indonesia. Diantaranya seperti Nias, Mentawai, Suku Anak Dalam, Dayak, Toraja dan seterusnya.

Naskah-Naskah Sejarah

Berdasarkan Naskah Wangsakerta yakni Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara yang disusun dalam Gotrasawala (simposium) pada tahun 1677 M (1599 Saka) yang melibatkan para ahli Sejarah Nusantara dan dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta dari Kesultanan Cirebon (naskah selesai disusun oleh Pangeran Wangsakerta pada 1620 Saka/1698 M). Di sana dikatakan bahwa telah berdiri kerajaan di pesisir barat Pulau Jawa dengan nama Kerajaan Salakanagara. Kerajaan tersebut didirikan oleh Dewawarman yang merupakan pangeran, duta besar dan niaga asal negeri Barata (India). Nama penobatannya setelah menjadi raja adalah Prabu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapura Sagara. Ibukota kerajaan tersebut berada di suatu kota dengan nama Rajatapura. Menurut analisis ahli, letaknya disekitar Teluk Lada di Provinsi Banten saat ini. Dan masa pendiriannya diperkirakan sekitar tahun 130 M (52 Saka). Kerajaan Salakanagara tersebut mampu bertahan dari tahun 130-362 M dengan rajanya yang mencapai delapan generasi, yakni dari masa Dewawarman I hingga masa Dewawarman VIII.

Badui atau Baduy
Leuit, tempat menyimpan hasil panen padi suku Baduy (atau Badui).

Salakanagara sendiri berarti Negeri Perak dalam bahasa Sanskrit. Gambaran demikian mengingatkan ahli Sejarah pada Naskah Geographike Hypergenesis yang ditulis oleh Claudius Ptolemaeus (100-170 M). Seorang Yunani dari kota Alexandria (Iskandariah Mesir) yang merupakan warganegara Kekaisaran Romawi. Bahwa di suatu pulau yang bernama Iabadioterdapat suatu kota yang bernama Argyre Chora. Dalam bahasa Yunani Argyre Chora berarti Negeri Perak. Dan kata Iabadio dalam bahasa Yunani berarti Pulai Jelai atau bisa dibaca secara lebih umum sebagai Pulau Sereal atau Pulau Padi-Padian. Argyre Chora dalam bahasa Yunani dengan demikian sebangun dengan Salakanagara dalam Sanskrit yang berarti Negeri Perak. Sementara Iabadio sebagun dengan Javadwipa yang berarti Pulai Jelai. Dalam bahasa Prakit (Prakerta), kata Sanskrit (Sankerta/Samkerta) Dwipa diucapkan Diwu. Sementara Diwu secara fonetik dekat dengan kata Yunani Dio. Sementara kata Java (variasi fonetiknya Jawa atau Yawa) dekat dengan kata Iaba (dalam Sanskrit, Yunani/Ionia disebut juga dengan Yawana).

Sumber keterangan yang diperoleh Claudius Ptolemaeus diperoleh melalui para penjelajah yang mengarungi lautan hingga ke daerah India sekitar tahun 150 M. Selain itu terdapat juga keterangan yang bersifat korespondensif dari China. Dimana pada tahun 132 M seorang raja dariYe-Tiao bernama Tiao-Pien mengutus duta ke China. Spekulasi ahli menduga jika logat Ye-Tiaoberarti Javadwipa sementara Tiao-Pien berarti Dewawarman.

Naskah-naskah Sejarah: Sejarah Suku Baduiy/Badui

Berdasarkan Naskah Wangsakerta yakni Pustaka Negara Kertabhumi yang merupakan putra dari pasangan Panembahan Girilaya dari Kesultanan Cirebon dan seorang putri Sultan Mataram Amangkurat I. Transisi menuju sistem kekuasaan kerajaan dimulai dengan adanya proses asimilasi yang dilakukan oleh para pendatang dari negeri Barata dengan penduduk pesisir Banten yang dipimpin dengan sistem adat oleh Aki Tirem dalam sistem pedukuhan atau kedatukan. Dewawarman dari Barata pada akhirnya menikahi putri Aki Tirem dari Banten dengan nama Nyai Larasati Sri Pohaci (nama penobatannya Dewi Dwani Rahayu). Hal itu diikuti dengan pernikahan para pengikut kedua belah pihak.

Selepas sistem kepemimpinan adat yang bersifat lokal oleh Aki Tirem, lewat jalur isterinya Dewawarman kemudian menjadi penerus dalam suksesi selanjutnya dengan sistem Hindu pertama di Pulau Jawa, Salakanagara. Putra Dewawarman ke-VIII (Prabu Darmawirya Dewawarman) yang bernama Aswawarman kemudian menikahi putri dari penghulu kedatukan Balukapura di Kalimantan Timur yang bernama Kudungga. Pernikahan Aswawarman tersebut menghasilkan Mulawarman. Dalam prasasti-prasasti mengenai Kerajaan Kutai Martadipura ketiga nama tersebut tercantumkan meskipun dengan keterangan bahwa Aswawarman merupakan putra Kudungga. Keberlanjutan Kerajaan Kutai Martadipura dapat ditelusuri hingga masa kemudian, Kerajaan Kutai Kartanegara.

Demikian juga dengan keterangan Naskah Wangsakerta. Bahwa pendiri Tarumanagara adalah pendatang dari negeri Barata yang bernama Maharesi Rajadirajaguru Jayasingawarman yang menikahi putri dari Dewawarman ke-VIII (Prabu Darmawirya Dewawarman). Pada masa Jayasingawarman ini pamor Salakanagara tenggelam menjadi negara bagian dari kerajaan Tarumanagara yang semula negara bagian dari Salakanagara. Putra Jayasingawarman bernama Darmayawarman dan kemudian menghasilkan cucu yang bernama Purnawarman. Pada masa Purnawarman ini prasasti-prasasti mulai berbicara soal Kerajaan Tarumanagara. Keberlanjutan Kerajaan Tarumanagara dapat ditelusuri hingga masa Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dan kemudian unifikasi Kerajaan Sunda-Kerajaan Galuh sebagai Kerajaan Sunda yang lebih dikenal sebagai Kerajaan Pajajaran. Nama sunda pertama kali dicatat sebagai nama bagi ibukota Kerajaan Tarumanagara, Sundapura.

Demikian juga dengan seluruh kerajaan-kerajaan di Nusantara perhubungannya menjadi sangat jelas dan tidak gelap lagi seandainya Naskah Wangsakerta yang baru ditemukan sebagai salinan pada tahun 1970-an ini dapat diterima dengan baik sebagai sumber rujukan kesejarahan. Jika diperhatikan seluruh pengembang periode kerajaan ini, baik di Nusantara maupun Indo-China dan kemudian India Selatan dan Assam India hingga Teluk Benggala semuanya menunjukkan penciri gelaran Warman (Sanskrit Varman). Sementara perihal transisi Hindu dan Lokal sebagaiman yang diceritakan Naskah Wangsakerta, terdapat juga dukungan Cerita Rakyat (folklore) terkait kedatangan Pangeran dari India dan pernikahannya dengan Nyai Larasati Sri Pohaci putri dari Aki Tirem dalam seting penanggulangan Perompak dan Bajak Laut. Cerita pertama beredar di Banten dengan seting Teluk Lada di Selat Sunda. Dan cerita kedua beredar di Jakarta dengan seting Pelabuhan Tanjung Priuk yang menarik untuk diperhatikan.

Sejarah Suku Baduy/Badui dalam Naskah Sejarah

Melalui penelusuran data dapat diketahui bahwa penisbatan Baduy kepada kelompok masyarakat adat Sunda yang menempati wilayah administrasi Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten secara tertulis bermula dari dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh para peneliti berkebangsaan Belanda. Misalnya saja A.A. Pennings menulis “De Badoewi’s in Verband met enkele Oudhen in de Residentie Bantam” (TGB, XLV, 1902). Kemudian J. Jacobs dan J.J. Meijer menulis “De Badoej’s” (‘s-Grahenhage: Martinus Nijhoff, 1891). Dan Pleyte menulis “Badoejsche Geesteskinderen” (TBG, 54, afl. 3-4, 1912). W.R. Van Hoevell menulis “Bijdragen tot de Kennis der Badoeinen in het Zuiden der Residentie Bantam” (TNI, 7, IV, 1845).

Dengan demikian terlihat bahwa para penulis berkebangsaan Belanda (Hindia-Belanda) menggunakan istilah Badoewi (A.A. Pennings), Badoej (J. Jacobs dan J.J. Meijer) dan (Pleyte), dan Badoei (W.R. Van Hoevell). Selain itu menurut Garna K. Judhistira dalam “Masyarakat Baduy di Banten” dalam Koentjaraningrat (Editor) dalam “Masyarakat Terasing di Indonesia” disebutkan bahwa orang Belanda biasa menyebut mereka dengan sebutan Badoei (baca: Badui), Badoej, Badoewi, Urang Kanekes dan Urang Rawayan. Sumber rujukan yang bisa dilacak antara lain Van Hoevell (1845), Jacob dan Meijer (1891), A.A. Pennings (1902), Pleyte (1912), Van Tricht (1929) dan N.J.C. Geise (1952).

Suku Baduy dan Urang Kanekes

Namun demikian, masyarakat adat Sunda di Banten tersebut sebenarnya lebih menyukai dengan menyebut dirinya sendiri sebagai Urang Kanekes dan Urang Rawayan. Atau dengan menyebut nama perkampungan mereka seperti Urang Cibeo dan Urang Cikertawana. Atau menurut keterikatan adatnya seperti Urang Tangtu ataupun Urang Panamping. Kanekes, Rawayan, Cibeo, Cikertawana adalah nama-nama tempat, yang secara toponimi dapat dijelaskan. Rawayan dalam bahasa Sunda misalnya, artinya jembatan penyeberangan alam (dari bambu). Sementara Tangtu artinya jelas, pasti, atau pusat yang secara teknis artinya masyarakat yang memegang tegus adat secara penuh dan menjadi pusat kosmologi dunia Baduy, yakni Kampung Cibeo, Kampung Cikertawana, dan Kampung Cikeusik. Dan Panamping artinya pendamping atau pelengkap yang secara teknis artinya masih memegang teguh adat namun tidak sepenuhnya, namun demikian masih menjadi bagian dari wibawa Kampung Tangtu. Dalam bahasa umumnya, Kampung Tangtu biasan diterjemahkan sebagai Baduy Dalam dan Kampung Panamping sebagi Baduy Luar.

Sayangnya, masyarakat adat Sunda di Banten itu sendiri sesungguhnya tidak menyukai penisbatan dirinya dengan nama Baduy yang diberikan oleh orang luar. Sebagaimana sudah dipaparkan tentang sejarah suku baduy sebelumnya, bahwa istilah badoei (baca: badui), badoej, dan badoewi dalam bahasa Belanda sesungguhnya berasal dari bahasa Arab. Yang berarti badw atau badawi atau badui yang dalam bahasa Inggris menjadi Bedu dan Bedouin yang merupakan suku pengembara Arab yang mengusahakan penggembalaan kambing, domba, sapi, unta, dan kuda di kawasan Afrika Utara, Tanduk Afrika (Pesisir Timur Afrika), Semenanjung Arab, dan Syam dan Irak (Mesopotamia). Penisbatan tersebut dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan gaya hidup yang sama yang dilakukan oleh masyarakat Arab Pengembara yang berbasis peternakan penggembalaan dengan masyarakat Sunda Pengembara yang berbasis pertanian ladang berpindah.

Domestikasi hewan dan tumbuhan merupakan tarap pencapaian yang serupa yang berbasis pada Revolusi Pertanian. Ditambah dengan prilaku yang relatif sudah bersifat semi menetap dengan dasar-dasar yang telah melampaui Zaman Batu, melainkan membentang pada Zaman Logam (perunggu dan besi). Perbedaan dengan dunia modern terletak pada persoalan pencapaian literasi atau temuan tulisan (writing system). Masyarakat adat Sunda di Banten, sebagaimana penisbatan dirinya sendiri sebagai masyarakat Sunda Wiwitan atau masyarakat Jati Sunda. Maka klaim mereka adalah representasi bagi Proto-Sunda. Suatu masyarakat Sunda permulaan, asli dan sejati yang relatif murni dengan tidak melakukan konvert terhadap tradisi mapan Hindu yang dibawa masyarakat dari India dan juga Islam yang dibawa masyarakat dari Arab.

Makna Sunda Wiwitan

Wiwitan artinya Pertama, sementara Jati merupakan pokok pohon kayu yang kuat. Dalam sebuah peribahasa Sunda dikatakan “Jati Kasilih Ku Junti” (Jati Terganti Oleh Junti), artinya pribumi tergantikan pendatang atau budaya pribumi tergantikan budaya pendatang. Masyarakat Sunda Wiwitan atau masyarakat Jati Sunda berusaha mengkonservasi gaya hidupnya berdasarkan pedoman hidup dan local wisdom yang merupakan warisan dari leluhurnya. Sebagaimana pada umumnya masyarakat Sunda lainnya yang telah konvert terhadap Islam, maka sebagian dari kelompok Sunda Wiwitan tidak melakukannya meskipun tidak melakukan upaya penolakan secara kasar. Mereka bahkan mampu melakukan hubungan kemanusiaan yang tetap baik karena masih terikat dengan garis-garis kekerabatan.

Meskipun pola kebudayaan yang dikembangkan masyarakat adat Sunda di Kanekes bersifat tahap perkembangan tua, namun demikian tidak berarti bahwa usia peradaban dan artefak yang dibangunnya juga tua dengan asumsi melampaui masa Sejarah Abad ke-4 Masehi misalnya. Ketika Hindu berkembang, bahkan ketika Islam berkembang. Dasar-dasar kebudayaan lama tidak serta merta ditindas dan dihilangkan. Melainkan menjadi dasar-dasar yang memperkuat daya adaptasi dan modalitas dasar untuk mampu menerima kebudayaan baru yang lebih tinggi. Sementara yang tidak melakukan asimilasi tetap melakukan kontak-kontak sosial secara baik. Ketika pendeta Hindu dan tempat-tempat peribadatannya hadir bersama kebudayaan kerajaan dan bangsawannya, para tetua masyarakat adat dan tempat-tempat kabuyutannya tetap dihargai sebagai orang tua dan para bares kolot yang berhak memberikan nasihat-nasihat dan pendapat-pendapat dalam kerajaan.

Sejarah Suku Baduy: Jalan Kaki Upacara Adat Seba
Suku Baduy Dalam berjalan kaki untuk mengikuti Upacara Seba Baduy

Dengan demikian, memupus spekulasi dan dugaan yang beredar dimana masyarakat adat Sunda Wiwitan di Banten sebagai pelarian dari Pakuan Pajajaran Bogor yang bersumber pada Pleyte (1812) dan Jacob dan Meijer (1891) yang menghubungkannya dengan wilayah keadipatian Pajajaran di Banten (Pucuk Umum Wahanten Girang), atau teori campuran keduanya yang dilakukan oleh Kruseman dan Pennings (1902). Selain masyarakat adat di sekitar Desa Kanekes, di sebelah selatan dari sistem pegunungan yang sama terdapat Citorek dan Cisungsang yang masih dalam administrasi Kabupaten Lebak (Banten) selain tinggalan punden berundak yang megah di Lebak Sibedug. Juga Ciptagelar dan Sirnaresmi yang telah masuk wilayah administrasi Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat).

Penulis: Gelar Taufiq Kusumawardhana. Guru Mata Pelajaran Geografi dan Sejarah di SMA Plus Assaadah/Pondok Pesantren Modern Assaadah Kecamatan Cikeusal Provinsi Banten. Menyukai Budaya dan Sejarah. Pendiri Pusat Kajian Sunda Varman Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *